Tudingan Faisal Basir Dibantah dengan Data Ini

Jakarta: Pemerintah membantah tudingan Ekonom Senior Faisal Basri yang mengatakan 90 persen program hilirisasi yang digalakkan pemerintah hanya menguntungkan investor Tiongkok.
 
Deputi Investasi dan Pertambangan, Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan, pola pikir Faisal Basri adalah salah. Seto bilang, hilirisasi komoditas nikel telah menghasilkan nilai tambah berupa pajak hingga langan kerja.
 
“Jika ekspor bijih nikel ini terus dilakukan maka nilai manfaat dari bijih nikel yang kita miliki 100 persen dinikmati oleh negara lain. Jadi negara asing 100 persen dan Indonesia 0 persen Tidak ada pajak dan penambahan tenaga kerja yang tercipta di Indonesia,” katanya dikutip Minggu, 13 Agustus 2023.

Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Prinsipnya sederhana, lanjut Seto seraya menghitung seberapa besar sumber daya yang harus dikeluarkan untuk memproses bijih nikel menjadi nikel pig iron.
 

“Sumber daya tersebut bisa dalam bentuk tenaga kerja, teknologi, listrik dan bahan baku lainnya. Lalu kita menganalisis, pihak mana (dalam negeri atau luar negeri) yang menikmati manfaat dari sumber daya tersebut,” uncapnya.
 
Lalu, berdasarkan analisis yang ia lakukan menyatakan bahwa dari 100 persen nilai produk smelter, kontribusi bijih nikel adalah 40 persen, 12 persen laba operasi yang bisa dinikmati investor, dan 48 persen adalah sumber daya tambahan yang perlu dikeluarkan untuk mengolah bijih nikel tersebut.
 
Dari 48 persen angka tersebut, sebanyak 32 persen dinikmati oleh para pelaku ekonomi di dalam negeri dalam bentuk batubara (untuk listrik), tenaga kerja, dan bahan baku lain. Sehingga hanya 16 persen yang dinikmati oleh pihak supplier dari luar negeri.
 
Berdasarkan hitungan tersebut, nilai tambah yang dinikmati oleh pihak luar negeri yaitu investor dan supplier adalah 16 persen ditambah komponen laba operasi 12 persen, sehingga menjadi 28 persen.
 
“Sehingga, nilai tambah yang dinikmati oleh dalam negeri adalah 32 persen atau secara proporsi mencerminkan sekitar 53 persen dari seluruh nilai tambah hilirisasi nikel,” ujar dia.
 
Nilai tambah dalam negeri akan lebih besar jika pihak investor asing tersebut melakukan reinvestasi di dalam negeri, tidak lagi mendapatkan tax holiday atau bahkan ada keterlibatan investor lokal, seperti Harum Energy, Trimegah Bangun Persada dan Merdeka Battery Materials.
 
Di samping itu, Seto melanjutkan mayoritas dari investasi hilirisasi nikel dilakukan di wilayah Sulawesi dan Halmahera yang sebelumnya memiliki gap aktivitas ekonomi yang besar dengan Jawa.
 
“Dengan adanya investasi ini, terjadi penciptaan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi yang besar, yang tidak akan terjadi tanpa adanya hilirisasi nikel ini,” jelas dia.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(ANN)

Quoted From Many Source

Baca Juga  Duh, Sektor Kuliner Rentan Hadapi Kecelakaan Kerja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *