Hati-Hati! SLIK atau BI Checking Jelek Bisa Bikin Susah Cari Kerja


Jakarta, CNBC Indonesia – Kredit macet pada produk buy now pay later (BNPL) dalam tren meningkat. Hal ini seiring dengan popularitas layanan bayar tunda tersebut. 

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit, Yohanes Arts Abimanyu mengungkapkan, per November 2023, nilai pinjaman BNPL tercatat sebesar Rp 28,22 Trilliun atau meningkat 16,99% secara year on year (yoy) dan naik 25,98% secara month to month (mtm).

Dari transaksi tersebut, tercatat sebanyak 5,31% di antaranya masuk kategori gagal bayar (galbay) atau kredit bermasalah (nonperforming loan). Kendati demikian, angka ini membaik 0,35% dibandingkan bulan sebelumnya.

“Sebaran group usia yang masuk kredit macet (kol 3+4+5) tertinggi ada pada sebaran usia >20-30 tahun sebesar 39,2% kemudian diikuti oleh >30-40 tahun sebesar 35,84%,” ungkap Yohanes.

Sementara itu, penunggak paylater paling banyak berasal dari tiga provinsi yaitu Jawa Barat sebesar Rp 325,7 milliar, DKI Jakarta sebesar Rp 258 milliar dan Jawa Timur sebesar Rp 121,6 milliar.

Adapun sebagai informasi tunggakan paylater akan membuat skor kredit memburuk. Hal ini pada akhirnya dapat membuat seseorang sulit memperoleh pekerjaan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya sempat angkat suara terkait viralnya cuitan di platform X tentang 5 orang lulusan baru (fresh graduate) yang ditolak lamaran kerja karena status kolektibilitas 5 atau macet.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kejadian ini dapat menumbuhkan kesadaran anak muda untuk ‘main-main’ utang online.

Sebab, perempuan yang akrab disapa Kiki itu menyebutkan sistem layanan informasi keuangan (SLIK) OJK dapat menunjukkan riwayat kredit seseorang dapat terlihat dengan lengkap. Dalam hal ini, hanya tinggal memasukan NIK di KTP untuk dapat mengakses data SLIK seseorang.

Baca Juga  Beri West Ham Bonus Penalti, Caicedo Kena Sindir Legenda Liverpool

“Jadi anak-anak muda tuh aware, oh iya jangan main-main utang online ‘abis itu aku ganti nomor, udah gak bisa ditagih’. Nggak gitu. Karena kalau udah pake KTP semuanya tuh akan masuk semua di SLIK ya,” ujarnya, dikutip Rabu (7/2/2024).

Kiki mengatakan sudah banyak kasus anak muda terjerat utangonline. Mereka adalah anak-anak sekolah konsumtif. Ada juga fresh graduate yang mengajukan pinjaman untuk membeli barang di kala menunggu waktu wisuda.

“Makanya kan kadang-kadang anak-anak sekolah itu konsumtif, banyak dengar cerita-cerita dari temen atau anaknya tuh sambil nunggu wisuda iseng-iseng. Ngajuin, pakai paylater terus akhirnya dari utangnya berapa jadi berkembang banyak, akhirnya mau cari kerja malah susah dan lainnya,” kata Kiki.

Maka dari itu, ia menyampaikan anak muda harus bertanggung jawab atas performa dan catatan keuangannya yang “sangat penting buat masa depan”.

Sulit Ajukan KPR

Selain membuat sulit melamar pekerjaan, skor kredit buruk akan membuat seseorang sulit diterima pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR). 

Kiki menceritakan bahwa ada sebuah bank yang banyak menyediakan KPR mengadukan ke OJK bahwa bank tersebut menolak sejumlah anak muda karena status mereka di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

“Padahal mereka cuma utang di paylater itu berapa ratus ribu, tapi macet dan lain-lain. Jadi itu sayang kan, lebih penting di rumah kan daripada belanja-belanja enggak jelas gitu,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bank BCA (BBCA) Resmi Luncurkan Layanan Paylater

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *